You are currently browsing the monthly archive for May, 2008.

 

WAKTU & HAKIKAT KETAKWAAN

Oleh: H. Ahmad Humaedi

 

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.

Katakanlah: ”Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia

dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan mamasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa.

Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah

kepada Allah agar kamu beruntung. (Q.S.: Al Baqarah [2]:189).

 

Ada berbagai asbabun nuzul ayat di atas dengan riwayat yang berlainan. Di antaranya, menurut riwayat Ibnu Abi Hatim dari Al Ufi yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa ayat, “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah; ”Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji,” diturunkan sebagai jawaban terhadap banyaknya pertanyaan kapada Rasullullah saw tentang peredaran bulan.

Sedangkan menurut riwayat Abu Nu`aim dan Ibnu `Asakir, dari as Suddi ash Shaghir, dari Al Kalby dari Abi Shalih yang tetap bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut berkenaan dengan pertanyaan Mu`adz bin Jabal dan Tsa`labah bin Ghunamah kepada Rasullullah saw, “Ya Rasulallah, mengapa bulan sabit itu mulai timbul kecil sehalus benang, kemudian bertambah besar hingga bundar dan kembali seperti semula, bentuknya tidak tetap?” Maka, sebagai jawabannya, Allah swt menurunkan ayat tersebut.

Dalam riwayat al Bukhary, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan kebiasaan orang jahiliyah sepulang menunaikan ihram di baitullah menasuki rumahnya dari pintu belakang.

Dalam riwayat lain, bahwa orang-orang Quraisy yang diberi julukan al Hams -Ksatria- mengangap baik apabila melakukan ihram masuk dan keluar melalui pintunya, akan tetapi kaum Anshar dan orang-orang Arab lainnya masuk dan keluar tidak melalui pintunya.

Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim dari Al Hakim yang bersumber dari Jabir dari Al`Ufi yang bersumber juga dari Ibnu Abbas, pada suatu hari, orang-orang melihat Quthbah bin Amir -dari kaum Anshar- keluar melalui pintu mengikuti Rasullullah saw. Serempaklah mereka mengadu atas pelanggaran tersebut, sehingga Rasullullah saw segera menegurnya. Quthbah menjawab, ”Aku hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasullulah.” Rasullullah saw bersabda, ”Aku ini seorang yang ksatria.” Quthbah menjawab, ”Akupun penganut agama Rasullullah saw.” Maka turunlah ayat walaisal birru sampai akhir. Sedangkan dalam riwayat Abdu bin Hamid yang bersumber dari Qais bin Habtar an Nahsyali, bahwa lelaki itu adalah Rifa`ah bin Tabut.

Hilal, bulan, adalah tanda kekuasaan Allah yang memiliki berbagai faidah yang tinggi. Dengan adanya hilal, kaum muslimin dapat menentukan kapan mulai dan berakhirnya suatu ibadah. Rasullullah saw bersabda, “Allah swt telah menjadikan hilal sebagai waktu-waktu untuk manusia. Shaumlah kalian kala melihatnya, dan bukalah kala kalian melihatnya pula.(H.R. Abdur Razak dan Al Hakim dari Abdullah bin Usmar).

Tanda kekuasaan Allah memiliki kekuatan yang dahsyat sebagai pelajaran; ibrah yang yang mendalam bagi kehidupan manusia. Dalam Q.S. Al Israa [17]:12-22, adalah proses perenungan dalam penggunaan waktu dan kesempatan hidup di dunia. Siapa yang dapat menggunakan waktu dan kesempatan dengan baik, maka ia akan mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat. Dan yang sebaliknya, ia akan mendapatkan kesengsaraan yang tiada taranya di dunia dan akhirat.

Atau, dalam Qur`an surat Yunus [10]:5-6, Allah swt berfirman, ”Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mangetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.”

Waktu memiliki dimensi yang sangat luas. Waktu, adalah proses manusia memanusiakan dirinya, jiwa dan segenap elemen yang ada dalam tubuhnya. Waktu memutarkan manusia pada sejarah untuk mengambil ibrah, dan mengantarkan manusia untuk merenung dan berfikir, mempersiapkan apa yang seharusnya dipersiapkan menghadapi pelbagai tantangan dan masa depan. Waktu, terus bergulir memberikan pelajaran dan bimbingan yang utuh kepada manusia. Namun, kerap kali manusia tak sadarkan diri dalam meneliti waktu. Manusia sering terkecoh dengan waktu. Sehingga, kegagalan sebenarnya adalah karena manusia tidak bijak dalam memanfaatkan waktu. Dan kesuksesan sesungguhnya adalah dikarenakan manusia sangat bijak dan cerdas dalam ”memproses” bergulirnya waktu. Hilal, adalah salah satu proses waktu yang manghasilkan amal saleh yang tinggi, signifikan, dan sistemik.

Di ujung ayat tersebut Allah swt berfirman, Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kapada Allah agar kamu beruntung.

Taqwa adalah hakikat kebaikan. Artinya, jika manusia ingin mencapai kebaikan yang utuh, maka capailah tangga takwa dengan maksimal. Pekerjaan simbolis, memasuki rumah lewat belakang, sebagai simbol ksatria tidak memiliki nilai yang utuh dalam kehidupan. Itu bukan kebaikan. Namun, kebaikan itu berporos pada tangga ketakwaan. Dengan takwa inilah manusia akan msndapatkan al falah.

Kala memberikan komentar terhadap ayat tersebut, Sayid Quthb berkata, ”Dengan demikian, ia mengikat hati dengan hakikat keimanan yang mendasar yaitu takwa, mengikat hakikat ini enggan harapan keberuntungan mutlak di dunia dan akhiratnya membatalkan tradisi jahiliyah yang kosong dari persediaan iman, dan mengarahkan kaum mukminin agar menyadari nikmat Allah atas mereka pada bulan sabit yang dijadikan Allah sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia dan ibadah haji…”

Takwa adalah proses perjuangan manusia untuk mencapai keridlaan Allah swt. Orang bertakwa adalah manusia pejuang yang memposisikan diri sebagai pendengar, penafsir dan pengamal dari titah Rabbaniyah. Menurut ahli hikmah, untuk mencapai takwa, manusia didapatkan pada lima pilihan. Siapa yang pilihannya tepat, niscaya akan memperoleh takwa. Orang takwa akan:

  1. Memilh beban berat dari pada bersenang-senang.

  2. Memilih berjuang dari pada berfoya-foya.

  3. Lebih suka merendah dari pada merasa diri mulia.

  4. Lebih suka memilih sederhana dari pada berlebihan.

  5. Lebih suka memilih bekal untuk mati dari pada bekal untuk hidup

 

Utsman bin Affan menjelaskan tentang karakteristik yang tidak bisa dipisahkan dengan insan bertakwa;

  1. Suka bergaul dengan orang yang baik dalam agamanya, serta dapat mengekang syahwat farji dan lisannya.

  2. Bila ditimpa musibah keduniaan yang besar, dia menganggapnya sebagai ujian.

  3. Bila ditimpa urusan kecil mengenai agamanya dia merasa untung karenanya.

  4. Tidak menjejali perutnya walaupun dengan makanan halal, sebab takut terancam dengan barang yang haram.

  5. Pada pandangannya orang lain sudah baik, sedangkan dirinya merasa masih kotor.

 

Dalam sebuah wasiatnya Nabi Daud berkata, “Hai anakku, tanda ketakwaan seseorang itu ada tiga;bertawakkal atas apa yang belum didapatkannya, rela dengan apa yang telah dimilikinya,dan sabar atas apa yang telah hilang darinya.”

Khalid ar rabi bercerita tentang budak berkulit hitam bernama Lukman.Dia diperintah oleh tuannya untuk menyembelih kambing, dan membawakan untuknya dua bagian yang paling baik dari hewan itu. Lalu dia bawakan untuk tuannya hati dan lidah kambing itu.

Beberapa hari kemudian, ia disuruh menyembelih kambing lagi dan membawakan untuk tuannya dua bagian yang paling buruk dari hewan itu. Lalu ia bawakan untuk tuannya hati dan lidah lagi. Tuannya berkata,”Dulu aku minta kamu membawakan dua daging yang paling baik, kamu bawakan hati dan lidah. Sekarang, aku minta daging yang paling buruk, kamu bawakan lagi hati dan lidah. Apa maksudmu? Lukman berkata, “Tidak ada yang lebih dari hati dan lidah ketika keduanya baik, dan tidak ada yang lebih buruk dari hati dan lidah ketika keduanya buruk.”

Kisah ini mengajarkan kepada kita, kalau mau mendaki tangga takwa mulai dengan kebersihan hati dan lisan.

Wallaahu a`lam bish shawwab.

 

 

Sumber: Al Mustanir, Edisi 049-Januari-2007