You are currently browsing the category archive for the ‘Al-Quran’ category.

PENGENALAN DASAR AL-QURAN

 

Tim Disbintalad

 

 

 

1.    PENDAHULUAN

 

Memahami kandungan Al-Quran merupakan kewajiban kita selaku umat Muhammad saw. Yang telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, hal mana usaha ke arah itu selalu diusahakan dan ditingkatkan yang antara lain usaha dimaksud berupa mempelajari terjemahan dan tafsirnya disamping mempelajari bacaannya.

 

Telah menjadi keyakinan bagi seluruh umat Islam dimanapun berada, bahwa kitab suci Al-Quran itu adalah kitab suci terakhir yang diturunkan Allah swt. Untuk seluruh umat manusia, disampaikan oleh Malaikat Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad saw. dalam bahasa Arab yang bermutu tinggi, guna menjadi pedoman hidup bagi umat manusia.

 

Al-Quran adalah cahaya yang terang benderang yang berisi kebenaran yang nyata, yang dapat menyinari dunia dan manusia di seantero jagad, yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan, dibawa kepada cahaya yang terang, yaitu kebenaran yang sejati dan abadi.

 

Al-Quran diturunkan dari Lauhil Mahfuzh sekaligus pada suatu tempat di langit dunia, kemudian diturunkan oleh Malaikat Jibril a.s. secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw. yakni satu ayat atau lebih, dalam waktu yang berbeda dan berlain-lainan, yang lamanya sekitar 21 tahun (menurut riwayat Ibnu Abbas).

 

Menurut Muqatil: Al-Quran itu diturunkan dari Lauhil Mahfuzh setiap tahun pada Lailatul Qadr ke langit dunia, kemudian turun dari Lauhil Mahfuzh dalam waktu dua puluh bulan kepada malaikat; dan selanjutnya diturunkan oleh Malaikat Jibril a.s. dalam waktu 20 tahun.

 

 

 

 

2.    PENGERTIAN AL QUR’AN

 

“Qur’an” menurut bahasa berarti “bacaan”. Di dalam Al-Quran sendiri terdapat pemakaian kata “qur’an” dalam arti demikian sebagai tersebut dalam Surat Al Qiyamah ayat 17 dan 18:

 

Artinya: “Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.”  (Q.S Al Qiyamah [75]:17-18)

 

Kemudian dipakailah kata “quran” itu untuk Al-Quran yang dikenal sekarang ini.

 

Adapun definisi Al-Quran ialah kalam Allah swt. yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw. Dan membacanya adalah ibadah.

 

Berdasarkan definisi tersebut di atas, dapatlah kita pahami bahwa kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw. tidak dinamakan Al Qur’an, seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. atau Injil yang diturunkan kepada  Nabi Isa a.s.

 

Demikian pula kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang tidak dianggap membacanya sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidaklah dinamai Al Qur’an.

 

Al-Quran yang kita kenal sebagaimana tertulis di dalam mushaf, tersusun dalam 30 juz, terdiri dari 114 surat dan mempunyai ayat ± 6236. Mengenai fungsi pokok Al-Quran secara jelas disebutkan di dalam Surat Al Baqarah ayat 185:

 

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”  (Q.S. Al Baqarah [2]:185)

 

 

 

 

3.    PERMULAAN WAHYU

 

Ketika menginjak usia empat puluh tahun, Muhammad saw. lebih banyak mengerjakan tahannuts (bersunyi diri untuk bertafakkur) daripada waktu-waktu sebelumnya. Pada bulan Ramadhan beliau membawa perbekalan lebih banyak dari biasanya, karena akan bertahannuts lebih lama daripada waktu-waktu sebelumya. Dalam melakukan tahannuts, kadang-kadang beliau bermimpi dengan mimpi yang benar (ar ru’yash shaadiqah).

 

Pada malam 17 Ramadhan, bertepatan dengan 6 Agustus 610 Masehi, di waktu Nabi Muhammad saw. sedang bertahannuts di gua Hira, datanglah Malaikat Jibril a.s. membawa wahyu (kalamullah) dan menyuruh Nabi Muhammad saw. untuk membacanya katanya, “Bacalah!” Dengan perasaan gemetar Nabi Muhammad saw. menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Beliau lalu direngkuh beberapa kali oleh Malaikat Jibril a.s. sehingga nafasnya sesak. Lalu dilepaskannya kembali seraya menyuruhnya membaca sekali lagi, “Bacalah!” Tetapi Nabi Muhammad saw. masih tetap menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Begitulah keadaan berulang sampai sampai tiga kali, dan akhirnya Nabi Muhammad saw. berkata, “Apa yang kubaca?”  Kata Malaikat Jibril a.s.

 

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

(Q.S. Al-‘Alaq [96]:1-5)

 

Inilah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. dan inilah pula saat pengangkatan beliau sebagai Rasulullah (Utusan Allah) kepada seluruh umat manusia untuk menyampaikan risalah-Nya.

 

Tercatat dalam sejarah bahwa saat menerima pengangkatan menjadi Rasul, umur beliau mencapai 40 tahun, 6 bulan dan 8 hari menurut tahun Qamariyah atau 39 tahun, 3 bulan dan 8 hari menurut tahun Syamsiyah.

 

Demikianlah riwayat terjadinya pengangkatan Nabi Muhammad saw. menjadi Rasul yang ditandai dengan turunnya lima ayat berisi perintah untuk membaca dan memahami kejadian manusia.

 

 

4.    BEBERAPA CARA NABI MENERIMA WAHYU

 

Nabi Muhammad saw. dalam menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, di antaranya:

 

a.    Malaikat Jibril a.s. menyampaikan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad saw.  Dalam keadaan seperti itu, Nabi Muhammad saw. tidak ada melihat sesuatu apapun; hanya beliau merasa bahwa wahyu itu sudah ada dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi Muhammad saw. mengatakan, “Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku.”  Sebagaimana firman Allah di dalam Al Qur’an, Surat Asy Syuuraa ayat 51:

 

Artinya: “Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.”

(Q.S. Asy Syuuraa [42]:51)

 

b.    Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi Muhammad saw. berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.

 

c.     Wahyu datang kepada Nabi Muhammad saw. seperti gemerincing lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi Muhammad saw. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadan unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun di saat beliau sedang mengendarai unta.

 

Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit, “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa.”

 

d.    Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi Muhammad saw. tidak berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut di dalam Al-Quran Surat An-Najm [53] ayat 13-14:

 

 

Artinya: Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. Yaitu di Sidratilmuntahaa.

(Q.S. An-Najm [53]:13-14)

 

 

Demikianlah cara-cara Nabi Muhammad saw. menerima wahyu dari Allah swt. yang kesemuanya diterima oleh Nabi Muhammad saw. dengan penuh kesadaran dan perhatian sehingga ketika itu juga Rasulullah mengerti, meresapi dan menghayati isi dan kandungannya, disamping menghafal rumusan kalimatnya.

 

 

5.    HUBUNGAN AL-QURAN DENGAN RISALAH MUHAMMAD SAW.

 

Risalah Nabi Muhammad saw. tercantum dalam firman Allah swt. yang terdapat dalam surat Ibrahim [14] ayat 1:

 

Artinya: Alif Laam Raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.

 

Jelaslah kiranya kepada kita bahwa tugas Nabi Muhammad saw. adalah mengemban misi yang demikian mulia dan sucinya, yaitu mengeluarkan manusia dari alam kegelapan kepada alam terang-benderang. Yang dimaksud kegelapan disini oleh para mufassirin adalah kegelapan syirik, sedang yang dimaksud cahaya terang-benderang adalah cahaya iman atau tauhid (meng-esa-kan Allah swt.)

 

Dengan Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk inilah yang dijadikan oleh Nabi Muhammad saw. untuk mengeluarkan manusia dari alam kegelapan menuju alam cahaya yang terang-benderang, sebagaimana telah terbukti dalam sejarah perjuangan Rasulullah, dimana beliau dapat mengubah masyarakat yang bermental jahiliyah mnejadi bermental tauhid yang membawa kepada kehidupan yang marhamah.

 

 

6.    MENGAMALKAN ISI AL-QURAN

 

Dengan memahami isi dan kandungan Al-Quran, tentunya diharapkan dapat menggugah hati untuk mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Kita selaku manusia beriman, meyakini kebenaran Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup, namun masih banyak di antara kita yang belum memahami isi dan kandungannya, sehingga kita lihat pengamalan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari belum nampak. Hal-hal yang perlu kita fahami tentang Al-Quran adalah antara lain sebagai berikut:

 

a.    Al-Quran adalah wahyu dari Allah yang ditujukan kepada seluruh umat manusia pada segala masa sejak diturunkan hingga akhir zaman.

 

b.    Al-Quran meletakkan dasaar-dasar pedoman yang bersifat umum untuk diterapkan dalam berbagai segi kehidupan. Dasar-dasar pedoman tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan masa dan kebutuhan umat manusia.

 

c.     Al-Quran diturunkan untuk memperbaiki peri kehidupan manusia. Karena itu Al-Quran memuat ayat-ayat yang mengandung perintah dan larangan. Yang diperintahkan adalah perbuatan-perbuatan yang baik, sedang yang dilarang adalah perbuatan-perbuatan yang buruk dan yang dapat merusak ketentraman serta keselamatan umat manusia itu sendiri dan masyarakatnya.

 

d.    Adapun sifat perintah dan larangan dalam Al-Quran adalah berpegang kepada tiga asas, yaitu:

»        Tidak memberatkan atau menyulitkan.

»        Tidak memperbanyak tuntutan.

»        Tidak sekaligus dalam membuat hukum.

 

Keterangan tentang ketiga asas tersebut adalah sebagai berikut:

 

Asas pertama:

Di dalam Al-Quran terdapat banyak aturan yang meringankan suatu tuntunan dan mempermudah pelaksanaannya, di antaranya adalah jika sedang melakukan perjalanan (musafir), diperbolehkan memperpendek (qashar) shalat empat rakaat menjadi dua rakaat, mengumpulkan (jamak) dua waktu shalat menjadi satu dan meninggalkan puasa di bulan Ramadhan dengan mengqadhanya di lain bulan Ramadhan.

 

Asas kedua:

Di dalam Al-Quran hanya sedikit ayat-ayat yang mengandung tuntutan, terutama tuntutan-tuntutan yang berat. Dari keseluruhan ayat-ayat Al-Quran yang berjumlah ± 6236 hanya sekitar 200 ayat saja yang mengandung perintah/larangan secara tegas.

 

Asas ketiga:

Aturan-aturan yang diharuskan untuk dilaksanakan terjadi secara berangsur-angsur; tiap ayat yang diturunkan selalu ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi sejalan dengan pertumbuhan alam pikiran manusia dan kebutuhan masyarakat. Adat kebiasaan yang baik dan tidak mengandung mudharat dibiarkan berlaku terus, sedang yang tidak baik dihapuskan dan dilarang, tetapi dengan cara yang sangat bijaksana dan berangsur-angsur, seperti pada pelarangan minum khamar (minuman keras) dan penghapusan perbudakan. Demikian pula halnya dalam menetapkan kewajiban-kewajiban.

 

Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa Al-Quran itu tidak hanya mengatur, tetapi juga mendidik sesuai dengan sifat yang melekat pada diri yang menciptakannya, yaitu Allah Rabbul ‘Alamin (Allah pengatur alam semesta).

 

 

7.    KEBESARAN AL-QURAN DALAM TATANAN KEHIDUPAN UMAT MANUSIA

 

Jangkauan dan isi kandungan Al-Quran sungguh luas yaitu menjangkau seluruh aspek kehidupan umat manusia, baik yang bersifat rohaniah maupun jasmaniah. Karena itu, tidaklah mengherankan bilamana ajaran-ajaran Al-Quran itu telah mempengaruhi kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya, merubah jalan sejarah umat manusia dan memberikan sumbangan yang besar kepada peradaban dunia. Pengaruh ajaran Al-Quran pada sosial budaya, ekonomi, politik, hukum, adat istiadat, pandangan hidup, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

 

Suatu masyarakat yang berada di bawah pengaruh ajaran Al-Quran akan mempunyai rasa kebersamaan, kegotongroyongan dan solidaritas yang tinggi, tidak mengenal kelas dan kasta, sangat mementingkan musyawarah dan senantiasa berusaha menghidupkan suasana dan semangat keagamaan dalam kehidupan masyarakat serta menolak setiap pengaruh yang dapat merusak nilai-nilai agama yang mereka junjung tinggi. Semua pranata sosial disesuaikan dengan ajaran agama.

 

 

KESIMPULAN

 

a.    Kitab suci Al-Quran adalah sekumpulan wahyu Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril a.s. dan merupakan mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad saw. dimana dengan membacanya termasuk ibadah.

 

b.    Wahyu yang pertama turun kepada Nabi Muhammad saw. adalah Surat Al-‘Alaq [96]:1-5, yang diterima Rasulullah di Gua Hira, yang saat itu merupakan saat pengangkatan beliau menjadi nabi dan rasul.

 

c.     Terdapat beberapa cara Nabi Muhammad saw. menerima wahyu, ada dengan cara Malaikat Jibril a.s. memasukkan wahyu itu ke dalam hati beliau tanpa kelihatan sesuatu, terkadang terlihat malaikat menampakkan diri seperti seorang laki-laki lalu menyampaikan kata-kata itu kepada Nabi Muhammad saw. dan terus menghapalnya, juga terdengar seperti gemerincing lonceng, dan adakalanya malaikat menampakkan dirinya dalam rupanya yang asli.

 

d.    Akhirnya kita memperoleh pengenalan dasar Al-Quran sebagai berikut:

»        Kita dapat mengetahui dan memahami risalah Nabi Muhammad saw.

»        Dapat menggugah hati dan jiwa kita untuk mengamalkan ajaran Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai aspek kehidupan.

»        Kita dapat mengetahui dan bahkan memperluas pengaruh Al-Quran dalam kehidupan bermasyarakat.

 

 

 

Sumber: Al-Quran Terjemah Indonesia (April 1997)

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.